Jumat, 29 November 2013


KONSTRUKSI INSTRUMEN EVALUASI,
TEST DAN PENGEMBANGANNYA

A.  Latar Belakang
Evaluasi merupakan salah satu kegiatan yang disengaja dan bertujuan. Kegiatan evaluasi dilakukan dengan sadar oleh guru dengan tujuan memperoleh kepastian mengenai keberhasilan belajar anak didik dan memberikan masukan kepada guru. Mengenai yang dilakukan dalam pengajaran. Dengan kata lain evaluasi yang dilakukan guru bertujuan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran yang disampaikannya sudah dikuasai atau belum oleh anak didik. Dan apakah pengajaran yang telah dilaksanakan sesuai yang diharapkan.
Evaluasi adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode, materiil. Evaluasi atau penilaian berarti usaha untuk mengetahui sejauh mana perubahan itu telah terjadi melalui kegiatan belajar. Koginitif artinya kemampuan intelektual.
Evaluasi mutlak dilakukan dan merupakan kewajiban bagi setiap guru karena pada akhirnya guru harus dapat memberikan informasi kepada lembaganya ataupun kepada anak didik itu sendiri. Bagaimana dan sampai dimana penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai anak didik tentang materi dan keterampilan mengenai mata pelajaran yang telah diberikannya.
Salah satu bentuk instrumen evaluasi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran adalah tes. Makalah ini akan membahas tentang konstruksi instrumen evaluasi bentuk tes dan pengembangannya.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1)      Bagaimana kontruksi instrumen evaluasi tes?
2)      Bagaimana pengembangan konstruksi evaluasi tes?
C.  Pembahasan
1.      Konstruksi Instrumen Evaluasi Tes
Dalam kegiatan mengukur sebagai suatu tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam lapangan pendidikan, pada umumnya tertuang dalam bentuk tes.
Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar, maka yang dimaksud dengan tes hasil belajar adalah tes yangdipergunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru kepada murid-muridnya, atau dosen kepada mahasiswanya dalam jangka waktu tertentu. Atau tes hasil belajar adalah cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalamrangka menilai hasil belajar anak didik, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas (baik yang berupa pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintah) yang harus dikerjakan anak didik, sehingga menghasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi belajar yang dicapai anak didik; nilai mana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai yang dicapai oleh anak-anak didik lainnya, atau dibandingkan dengan nilai standart tertentu.
Sebuah tes yang bisa dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objectivitas, praktikabilitas, dan ekonomis.
a.       Validitas
Artinya tes tersebut dengan secara tepat dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, atau tes yang dengan secara benar dapat mengungkap apa yang seharusnya diungkap. Sebuah tes disebut valid apabila tes tersebut dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur. Istilah “valid” sangat sukar dicari gantinya. Ada istilah baru yang mulai diperkenalkan, yaitu sahih, sehingga validitas diganti menjadi kesahihan. Walaupun istilah “tepat” belum dapat mencakup semua arti yang tersirat dalam kata “valid” dan kata “tepat” kadang-kadang digunakan dalam konteks yang lain, akan tetapi tambahan kata “tepat” dalam menerangkan kata “valid” dapat memperjelas apa yang dimaksud.
Validitas meliputi validitas logis dan validitas empiris. Validitas empiris terdiri atas validitas isi, validitas konstruk, validitas “ada sekarang” dan validitas predictive.
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Dikatakan memiliki validitas kontruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam tujuan instruksional khusus. Dikatakan memiliki validitas ada sekarang (empiris) jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Sedangan validitas prediksi artinya tes dapat digunakan untuk meramalkan mengenai hal yang akan datang. Untuk mengetahui validitas tes digunakan rumus korelasi product moment.

b.      Reliabilitas
Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa Inggris, berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Sedangkan tes dapat dikatakan baik apabila ia memiliki daya keterpercayaan, yaitu terkandung pengertian bahwa tes tersebut bersifat stabil, memiliki sifat keajegan, konsisten. Artinya sebuah tes dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila di teskan berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukkan ketepatan.
c.       Objectifitas
Bahwa tes dikatakan baik apabila terhindar atau bebas dari pengaruh-pengaruh yang bersifat subyektif. Artinya, tes tersebut berjalan menurut apa adanya. Hal ini terutama dilihat dari segi cara pemberian skor dan penentuan nilai hasil tesnya. Atau sebuah tes dikatakan memiliki objectifitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjectif yang mempengaruhi. Hal ini terutama terjadi pada sistem skoringnya.
d.      Praktikabilitas
Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah mengadministrasiannya. Sedangkan tes yang praktis adalah tes yang mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dan dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan/ diawali oleh orang lain.
e.       Ekonomis
Yang dimaksud ekonomis disini ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan ongkos/ biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama.

2.      Pengembangan Konstruksi Evaluasi Tes
Objek-objek evaluasi pembelajaran yang disebutkan di atas dapat ditinjau menurut pendapat dari ahli-ahli di bidang pendidikan, ahli-ahli di bidang studi tertentu, guru-guru, dan bahkan dari siswa-siswa serta orang tua. Mereka itu dapat diminta untuk mengemukakan pandangannya secara bebas, dengan cara menyediakan daftar-daftar  pernyataan  untuk mereka jawab. Misalnya dapat disusun daftar pertmanyaan mengenai kelayakan dan tujuan-tujuan instruksional dan relevansi materi pelajaran yang kelmudian dijawab oleh orang-orang yang cukup kompeten untuk memberikan pandangan kritis. Dibawah ini disebutkan beberapa metode dan alat yang dapat diterapkan.
a.       Daftar-daftar pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan biasanya dituangkan dalam bentuk yang mirip pertanyaan pilihan ganda atau skala penilaian.
b.      Metode observasi. Beberapa orang yang cukup terlatih dalam mengadakan observasi dengan apa yang akan diobservasi, menghadiri proses belajar-mengajar di dalam kelas. Salah satu system observasi terencana ialah system analisa interaksi verbal yang dikembangkan oleh Ned. A Flanders dalam bukunya yang berjudul “Analyzing Teacher Behavior”, yang dikenal dengan nama Interaction Analysis Categories. Dapat yang dikembangkan daftar-daftar observasi yang mencakup hal-hal yang relevan bagi pengelolaan pengajaran, misalnya:
1)      Tujuan instruksional: dijelaskan atau tidak
2)      Materi pelajaran: sesuai dengan tujuan atau tidak
3)      Keadaan awal siswa: kemampuan prasyarat atau tidak
4)      Prosedur didaktik: sesuai dengan tujuan atau instruksional atau   tidak
5)      Media pengajaran: cara penggunaan dan kesesuaiannya.
6)      Gaya mengajar: corak interaksi, kontak mata, suasana dalam   kelas
7)      Pengelompokan siswa: sesuai dengan tujuan atau tidak.
8)      Prosedur evaluasi: relevan atau tidak
9)      Keterlibatan siswa: siswa aktif atau pasif
10)  Wawancara dengan beberapa siswa mengenai pengalaman mereka selama berpartisipasi dalam proes belajar mengajar dalam kelas dan selama mengikuti testing hasil belajar.
11)  Laporan tertulis oleh para siswa setelah suatu program pengajaran selesai. Siswa dapat diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapatannya menurut selera sendiri tetapi hasilnya sering mengecewakan karena siswa kurang mengetahui apa yang harus diberi tanggapan. Maka akan lebih baik mereka diberi beberapa petunjuk tentang apa yang perlu ditanggapi, misalnya:
a)      Tempo pengajaran: terlalu cepat atau terlalu lambat.
b)      Prosedur didaktik yang digunakan: sesuai atau kurang sesuai.
c)      Materi pelajaran: menarik atau kurang menarik
d)     Hasil apa yang dipetik dari pengajaran
e)      Penjelasan yang diberikan oleh guru: dapat ditangkap atau tidak
f)       Prosedur evaluasi belajar: dianggap sesuai atau tidak.
g)      Usul-usul perbaikan.
Instrumen evaluasi dapat berupa tes subyektif  tes obyektif.
a)   Tes subjektif
Yang pada umumnya berbentuk tes esai (uraian) tes bentuk esai adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-ciri pertanyaanya didahului dengan kata-kata seperti, uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya.
Soal-soal bentuk esai biasanya jumlahnya tidak banyak, hanya sekedar 5-10 buah soal dalam waktu kira-kira 90-120 menit. Soal-soal bentuk esai ini menuntut kemampuan siswa untuk dapat mengorganisir, menginterprestasi, menghubungkan pengertian-pengertian yang telah dimiliki. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa tes esai menuntut untuk dapat mengingat-ingat dan mengenal kembali dan terutama harus mempunyai daya kreativitas yang tinggi.
b)   Tes obyektif
(1)   Tes benar-salah (true-false)
Soal tes benar salah (true-false) berupa pernyataan-pernyataan (statement). Statement tersebut ada yang benar dan ada yang  salah.  Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataan itu dengan melingkari huruf B jika pernyataan itu betul menurut  pendapatnya dan melingkari huruf S jika pernyataannya salah.
(2)   Tes pilihan ganda (multiple choice test)
Multiple choice test terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Atau Multiple choice test terdiri atas bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatif (option). Kemungkinan jawaban (option) terdiri atas satu jawaban benar yaitu kunci jawaban dan beberapa pengecoh.
(3)   Menjodohkan (matching test)
Matching test dapat kita ganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan, atau menjodohkan. Matching test terdiri atas satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban. Masing-masing pertanyaan mempunyai jawaban yang tercantum dalam seri jawaban. Tugas murid ialah mencari dan menempatkan jawaban-jawaban sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya.
(4)   Tes isian (completion test)
Completion test biasa disebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan, atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid merupakan pengertian yang diminta dari murid.

D.  Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat pemakalah rumuskan sebagai berikut:
1.    Instrumen evaluasi yang baik harus memenuhi validitas, reliabilitas, objectivitas, praktikabilitas, dan ekonomis. Validitas suatu tes meliputi validitas logis dan validitas empiris. Validitas empiris terdiri atas validitas isi, validitas konstruk, validitas “ada sekarang (empiris)” dan validitas predictive.
2.    Pengembangan instrument evaluasi dapat digunakan dengan membuat daftar-daftar pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan biasanya dituangkan dalam bentuk yang mirip pertanyaan pilihan ganda atau skala penilaian. Digunakan juga metode observasi untuk mengetahui keefektifan tes yang telah digunakan. Tes dapat dikembangkan dalam bentuk tes subyektif ataupun tes obyektif seperti dibuat dalam bentuk tes benar-salah (true-false), tes pilihan ganda (multiple choice test), menjodohkan (matching test), atau tes isian (completion test).

E.  Penutup
Demikian pembahasan makalah yang dapat pemakalah sampaikan semoga dapat menambah pengetahun dan wawasan kita seputar konstruksi dan pengembangan evaluasi tes. Saran dan kritik pemakalah harapkan demi perbaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Muhidin, Sambas dan Abdurahman, Maman, Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian, (Bandung: Pustaka Setia, 2009)
Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002)
Daien Indra Kusuma, Amir, Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 2001)
Slameto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2001)
Sudijono, Anas, Strategi Penilaian Hasil Belajar pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Upaya Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional,  (Yogyakarta: UD. Rama, 1993)
Sudjana, Nana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Algesindo, 1995)
Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1999)




 

Jumat, 22 November 2013



STRATEGI DAN METODE DALAM
TEKNOLOGI INSTRUKSIONAL

A.  Pendahuluan
Mengajar merupakan proses yang kompleks yang tidak hanya sekedar menyampaikan informasi oleh guru kepada siswa tetapi banyak hal dan kegiatan yang harus dipertimbangkan dan dilakukan.[1] Mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.[2]
Untuk menciptakan situasi edukatif diperlukan penggunaan strategi dan metode pembelajaran,. Melalui penggunaan strategi dan metode pembelajaran yang tepat dapat menciptakan kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien. Dengan demikian, penggunaan strategi dan metode pembelajaran merupakan salah satu faktor keberhasilan belajar siswa yang harus mendapat perhatian serius oleh para guru. Di sinilah pentingnya penggunaan strategi dan metode pembelajaran dalam desain instruksional.
Makalah ini akan membahas tentang strategi dan metode dalam teknologi instruksional.

B.  Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat pemakalah rumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana strategi dalam teknologi instruksional?
2.      Bagaimana metode dalam teknologi instruksional?



C.  Pembahasan
1.      Strategi dalam Teknologi Instruksional
Strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.[3] Strategi juga mempunyai arti tindakan yang terdiri atas seperangkat langkah untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan.[4]
Strategi pembelajaran memiliki beberapa aspek, yaitu:
a.    Aspek pengarahan
Aspek ini baru terlaksana dengan baik kalau ada guru berusaha memerpsiapkan pelajar ke arah pemenuhan kebutuhan perubahan-peubahan yang progresif dalam lingkungannya.
b.    Aspek motifasi
Dalam aspek ini guru hendaknya mampu mengarahkan timbulnya minat para siswa dengan mencurahkan perhatiannya kepada mereka sebagai individu dan menyesuaikan metode, bahan yang aka diajarkan atau disajikan sedemikian rupa sehingga mendorong siwa memperoleh kepuasan dan kegiatan.
c.    Aspek Perkembangan Sikap
Secara teoritis semua usaha pendidikan diarahkan untuk membantu para siswa mengembangkan segala kemampuannya sehingga sikap-sikapnya bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat.
d.   Aspek teknik
Kesiapan belajar yang hasilnya diketahui pada tingkat ketetapan.
e.    Aspek pribadi
Meliputi ketajaman observsai, intelegensi dan kemampuan sosialisasinya.


Ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal berikut:
a.       Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
b.      Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
c.       Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar, mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menyampaikan kegiatan mengajarnya.
d.      Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem intruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.
Dalam proses pengajaran, komponen sistem instruksional dipola dan didesain dengan perencanaan yang cermat dan matang oleh guru dengan hrapan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Di kelas guru sebagai pendidik, pembimbing, pemimpin, administrator dan sebagai fasilitator di dalam proses pembelajaran mempunyai tanggung jawab besar untuk mengantarkan anak didiknya agar menjadi manusia yang berkualitas. Konsekuensi logisnya, guru dituntut menguasai berbagi strategi dan teori yang terkait dengan pelaksanaan tugasnya.
Adapun langkah-langkah dalam strategi pembelajaran dalam teknologi instruksional meliputi:
a.       Perencanaan
Sebelum guru melaksanakn tugas mengajar di dalam kelas, kegiatn guru secara administratif harus mempersiapkan perangkat yang digunakan. Perencanaan yang dilakukan oleh guru, sebelum masuk kelas melaksanakan tugas mengajar, hal-hal yang perlu siapkan adalah:
1)      Menyiapkan bahan ajar, yang diambil dari beberapa sumber (buku-buku referensi, surat kabar, majalah dan sumber lain yang memnuat bahan ajar).
2)      Menyiapkan media, alat atau sarana yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan pengajaran.
3)      Menyiapkan perangkat administrasi pembelajaran yang berupa:
a)    Silabus.
Menyusun silabus secara lengkap yang menuat, tentang keterangan sekolah, mata pelajaran, kelas, semester, standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok pembelajaran, kegiatan pe,mbelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar.  
b)   Rencana Pelamsanaan Pembelajaran (RPP).
Menyusun RPP secara lengkap memuat; tentang identitas mata pelajaran, kelas. Semester, pertemuan ke, alokasi waktu, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan, materi ajar, metode, langkah-langkah, alat/media, sumber belajar dan penilaian.
c)    Menyusun Daftar Hadir.
Menyusun daftar hadir siswa yang memuat tentang, nama mata pelajaran, nama guru mapel, tahun pelajaran, kelas/program, nomor urut, nomor induk siswa, nama siswa, kolom kehdiran dan keterangan.
d)   Daftar nilai siswa.
Menyusun daftar nilai sisw yang memuat tentang, nama pelajaran, nama guru mapel, tahun ajaran, kelas, nomor urut, nomor induk siswa, nama siswa, kolom nilai (kognitif, psikomotor, afektif), nilai tengah semester, nilai alhir semester.

e)    Jurnal pertemuan tatap muka.
Menyusun jurnal pertemuan tatap muka yang menuat tentang, nama pelajaran, nama guru, tahun ajaran, semester, kelas, nomor urut, hari/tanggal pertemuan, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, metode yang digunakan, waktu, keterangan siswa yang tidak ikut, tanda tangan guru.[5]
b.      Memilih jenis strategi pembelajaran
Banyak sekali strategi dalam pembelajaran, seperti strategi belajar siswa aktif (active learning), strategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning), strategi bermain peran (role playing), dan lain sebagainya. Guru hendaklah memahami strategi sebelum menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran agar tidak terjadi kesalahan. Kesalahan dalam memilih strategi pembelajaran akan berdampak kurang efktifnya kegiatan pembelajaran di kelas.
c.       Melakukan evaluasi/penilaian terhadap kegiatan pembelajaran
Evaluasi dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis maupun tes lisan. Evaluasi setidak-tidaknya mencakup tiga ranah pembelajaran, yaitu kognitif (pengetahuan). Afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Tes yang diberikan dapat berupa tes subyektif maupun tes obyektif tergantung pada karakteristik mata pelajaran dan waktu yang tersedia. Jika siswa menunjukkan adanya peningkatan hasil evaluasi, maka penerapan strategi pembelajaran dapat dikatakan berhasil.
Strategi instruksional tidak hanya terbatas pada "kegiatan", melainkan juga termasuk di dalamnya "materi atau paket pengajaran". Suatu strategi instruksional terdiri atas semua komponen materi (paket) pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan instruksional tertentu." Komponen Strategi Instruksional Selanjutnya Dick menyebutkan adanya lima komponen strategi instruksional yakni: (1) Kegiatan instruksional pendahuluan, (2) Penyampaian informasi, (3) Partisipasi siswa, (4) Tes, dan (5) Kegiatan lanjutan.[6]

2.      Metode dalam Teknologi Instruksional
Istilah metode berasal dan bahasa Yunani yaitu “metha” dan “hodos“, metha berarti melalui dan hodos berarti jalan atau cara.[7] Menurut Abudin Nata metode berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.[8]
Sebagai seorang guru tidak bisa sembarangan atau sesuka hati memilih metode yang ia inginkan tapi harus berpedoman pada kondisi pembelajaran. Hal ini sesuai yang dikemukakan Syaiful Bahri Djamarah, bahwa banyak faktor sebagai penentuan metode adalah tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya, anak didik dengan berbagai keadaannya dan fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya.[9]
Metode intruksional bagian dari strategi intruksional. Beberapa pertimbangan yang harus dilakukan oleh pengajar dalam memilih metode pengajaran agar tepat dan akurat, yaitu harus memperhatikan:[10]
a.       Tujuan intruksional
Penetapan tujuan intruksional merupakan syarat mutlak bagi guru dalam memilih metode yang akan digunakan dalam menyajikan materi pengajaran. Tujuan intruksional merupakan sasran yang hendak dicapai pada akhir pengajaran, serta kemampuan yang harus dimiliki siswa.
b.      Pengetahuan awal siswa
Pada awal atau sebelum guru masuk kelas memberi materi pengajaran kepada siswa, ada tugas yang tidak boleh dilupakan yaitu untuk mengetahui pengetahuan awal siswa, agar sewaktu memberi pengajaran. Dengan mengetahui pengetahuan awal siswa, guru dapat menyusun strategi memilih metode intruksional yang tepat pada siswa.
c.       Bidang studi atau pokok bahasan
Metode yang akan dipergunakan lebih berorentasi pada masing-masing ranah (kognitif, afeksi, psikomotorik) yang terdapat dalam pokok bahasan. Dengan demikian metode yang kita pergunakan tidak terlepas dari bentuk dan muatan materi dalam pokok bahasan yang disampaikan pada siswa.
d.      Alokasi waktu dan sarana penunjang
Waktu yang tersedia dalam pemberian materi pelajaran satu jam pelajaran, maka metode yang digunakan telah dirancang sebelumnya, termasuk didalamnya perangkat penunjang pembelajaran. Perangkat pembelajaran tersebut dapat digunakan oleh guru secara berulang-ulang.
e.       Jumlah siswa
Idealnya metode yang diterapkan dalam kelas melalui pertimbangan jumlah siswa yang hadir. Ukuran kelas menentukan keberhasilan terutama pengelolaan kelas dan penyampaian materi. Para ahli pendidikan berpendapat bahwa mutu pengajaran akan tercapai apabila mengurangi besarnya kelas.
f.       Pengalaman dan kewibawaan pengajar
Guru yang baik adalah guru yang berpengalaman dan dia harus berwibawa. Kewibawaan merupakan kelengkapan mutlak yang bersifat abstrak. Kewibawaan pada guru dibagi menjadi dua:
1)      Kewibawaan kasih sayang
2)      Kewibawaan jabatan
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas bahwa metode intruksional merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu.[11] Berikut ini adalah metode yang memungkinkan diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas, yaitu: metode ceramah, demonstrasi, tanya jawab, dan metode diskusi. Pemilihan metode pembelajaran agama harus melalui pertimbangan yang matang dengan melihat tujuan instruksional yang hendak dicapai.

D.  Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat pemakalah simpulkan sebagai berikut:
1.      Strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus yang memiliki beberapa aspek/unsur yang saling terpadu satu sama lain. Strategi pembelajaran dalam teknologi instruksional diaplikasikan dengan cara membuat perencanaan kegiatan pembelajaran, pelaksanaan desain instruksional dan melakukan evaluasi.
2.      Metode dalam sistem informasi merupakan bagian dari sistem kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu dalam mengaplikasikan metode pembelajaran harus memperhatikan: Tujuan intruksional, pengetahuan awal siswa, bidang studi atau pokok bahasan, alokasi waktu dan sarana penunjang, jumlah siswa, pengalaman dan kewibawaan pengajar

E.  Penutup
Demikian pembahasan makalah tentang strategi dan metode dalam teknologi instruksional yang dapat pamakalah sampaikan. Meskipun sederhana diharapkan mampu menambah pengetahuan bagi kita khususnya tentang strategi dan metode dalam teknologi instruksional.



DAFTAR PUSTAKA

Arief, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002)
Bahri Djamarah, Syaiful,  Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000)
Basyiruddin Usman, M., Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers,  2002)
http://kembar-maswan.blogspot.com/2009/01/strategi-dan-metode-dalam-teknologi.html
http://zuhairistain.blogspot.com/2012/04/pemilihan-strategi-instruksional.html
Nata, Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 65
Poerwadarminta, S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1979) Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000)
Uzer Usman, Moh., Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002)
Yamin, Martinis, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2003)


[1]M. Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Pers,  2002), hlm. 19.
[2]Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002), hlm. 4.
[3]W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1979), hlm. 964.
[4]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 214.
[5] http://kembar-maswan.blogspot.com/2009/01/strategi-dan-metode-dalam-teknologi.html
[6] http://zuhairistain.blogspot.com/2012/04/pemilihan-strategi-instruksional.html
[7]Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 40.
[8]Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 65.
[9]Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000), hlm. 185.
[10]Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2003), hlm. 59 – 64.
[11] Ibid, hlm. 64.